Yesus Kristus Dalam Kebangsaan, Kebangsaan Dalam Yesus kristus

Selasa, 10 Juli 2012

INDAHNYA KEHIDUPAN YANG PENUH CINTA DAMAI

 INDAHNYA KEHIDUPAN YANG PENUH CINTA DAMAI

KHOTBAH MINGGU
8 JULI 2012
1 PETRUS 3:8-12


Sidang jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus!
            Semua orang pasti mendambakan kehidupan yang harmonis, tenang, rukun dan damai. Ada tradisi orang Minahasa dimana saat satu keluarga akan menikmati makan malam semua anggota keluarga harus duduk menghadap meja makan. Hal ini dimaksudkan supaya semua dapat menikmati sajian yang telah dihidangkan walaupun selera berbeda; apa yang sudah dihidangkan itulah yang dimakan. Sebenarnya praktis tapi sangat mengandung makna yang amat dalam ketika “duduk semeja hidangan”, dimana semua anggota keluarga menyatu hati setelah seharian sibuk dengan berbagai aktivitas masing-masing. Disaat itulah waktu dan tempat yang tepat untuk saling berbagi kasih, bercanda ria dan berbincang untuk rencana hari esok. Namun sering terjadi dimana-mana dalam kehidupan rumah tangga, ketika waktu berjalan terus dan masing-masing memperoleh pekerjaan, jabatan sekaligus penghasilan, mulailah sepasang suami isteri menghitung: ‘apa yang saya peroleh dan apa yang dia peroleh’. Sehingga mulai lupa dengan ‘duduk semeja hidangan’. Masing-masing mulai lebih suka bergabung dengan teman-teman dengan alasan demi karir jangan sampai dijuluki ‘kuper’ (kurang pergaulan). Godaan ini dapat membawa bencana bagi keluarganya, sebab pergaulan yang akrab dan harmonis di meja makan, digusur oleh semaraknya makan bersama rekan sekerja di restoran. Rasa rindu isteri kepada suami dan sebaliknya telah digerogoti oleh kerinduan untuk jumpa lagi dengan rekan kerja.  Kemesraan dapat berganti kerenggangan dan kasih berubah menjadi benci. Memang semua kita tidak luput dari tantangan zaman yang dapat menjerumuskan pada hal-hal yang tidak memuliakan Tuhan. Dalam hubungan antara jemaat pula sering terjadi kesalahpahaman yang bertahun-tahun, bahkan beberapa kali lewat acara pengucapan syukur tahunan belum juga berdamai walau masih memiliki hubungan persaudaraan dan lebih parah lagi kalau masih dalam satu persekutuan gereja Tuhan.  Banyak orang beriman sering berucap,” kita kwak so ndak marah pa dia, kita so kase ampun” padahal dalam lubuk hatinya masih menyimpan akar pahit dan kekecewaan yang tiada akhir. Benih kebencian dapat merusak citra diri orang beriman bahkan dapat membawa malapetaka yang dapat dirasakan oleh orang lain. Ada pula yang kelihatannya menjalin hubungan yang harmonis padahal masing-masing menyimpan kemunafikan karena persaingan jabatan.
            Bacaan Alkitab saat ini hendak menegaskan beberapa prinsip hidup yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen, sehingga dalam kehidupan nyata setiap hari dapat menampilkan indahnya hidup yang penuh cinta damai. Pertama, hidup rendah hati (ayat 8-9). Pada tahun 1912 kapal RMS Titanic siap mengarungi samudera dan salah seorang perancang kapal ini berkata, ‘Bahkan Tuhan tidak akan sanggup menenggelamkan kapal ini’. Namun apa yang terjadi adalah sebaliknya pada pelayaran perdananya dari England menuju ke New York kecelakaan terjadi sehingga menenggelamkan 1502 orang termasuk anak-anak. Kesombongan mendatangkan kehancuran. Rasa percaya diri yang positif akan sangat membantu seseorang dalam bergaul, tetapi percaya diri yang berlebihan akan membuat seseorang terjebak dalam keangkuhan, kebanggaan dan kesombongan sehingga berakhir dengan kehancuran.  Orang yang belajar hidup rendah hati akan tampil membawa kesejukan dalam hubungan komunikasi dengan sesama  manusia. Dengan adanya sifat rendah hati maka akan memungkinkan terciptanya hubungan yang harmonis dan tulus memberkati orang yang berbuat jahat bahkan yang mengeluarkan caci maki kepadanya.  Kerinduan untuk tetap bersatu hidup berdampingan pasti nyata dalam kehidupan orang yang rendah hati. Sadar diri bahwa dia tidak luput dari segala kekurangan dan bersyukur dengan segala kelebihan yang dikaruniakan Tuhan. Sehingga pada akhirnya memberkati orang lain dengan sikap dan perbuatan setiap hari. “hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (ayat 9b). Kedua, Menjaga lidah terhadap yang jahat (10-11). Bermusuhan dengan orang lain mengakibatkan hidup terasa pekat, tapi berdamai dengan semua orang hidup akan terasa nikmat. Ada pepatah kuno, “ The tongue wounds more than a lance, artinya Lidah lebih banyak melukai dari pada tombak” (Herald). Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. (Amsal 12:18). Apa reaksi saudara ketika seseorang mengataakan sesuatu yang tidak benar dan menyakiti hati saudara? Secara naluri mungkin kita akan membela diri dan pasti marah. Tidak jarang kata-kata kasar dan menyakitkan keluar. Tepai hal itu tidak menyelesaikan masalah malah menambah luka batin. Ada ungkapan firman Tuhan, “Jawaban yang lemah lembut meeredakan kegeraman” (Amsal 15:10). Seorang filsuf Yunani meminta pembantunya untuk memasak masakan yang paling enak. Si pembantu yang dikaruniai kebjikasanaan memasak lidah sambil berkata, ‘ini merupakan makanan yang terenak karena mengingatkan kita bahwa kita harus menggunakan lidah untuk memberkati orang lain, mengungkapkan sukacita, menghilangkan keputusasaan dan menebar semangat kegembiraan. Keesokan harinya sang filsuf kembali menyuruh pembantunya memasak, kali ini makanan yang paling tidak enak. Sekali lagi ia memasak lidah, sambil menghidangkan makanan itu ia berkata, ‘ini merupakan masakan yang paling tidak enak karena mengingatkan bahwa kita dapat menggunakan lidah kita untuk mengutuk orang lain, menghancurkan hati dan reputasi orang lain, menghasut sehingga terjadi kekacauan, membuat keluarga, teman bahkan bangsa berperang’. Tak dapat disangkal setiap perkataan yang keluar dari mulut kita memiliki peranan yang besar dalam kehidupan manusia didunia ini. Kebiasaan menceritakan kelemahan dan menjelekkan orang lain masih sering dijumpai dalam pergaulan hidup sehari-hari. Sebagai warga gereja kita dituntun dengan kebenaran firman Tuhan agar belajar mengendalikan lidah dari perkataan-perkataan negatif. Siapa yang mau mencintai hidup harus menjaga lidahnya dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Barangsiapa mau bertobat dari dosa lidah jahat dan belajar menaklukan kepada Kristus, maka pasti akan menikmati hidup yang bahagia dan penuh cinta damai. Menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan dengan cara  berusaha untuk terus mewujudkan perdamaian abadi, harus menjadi pola hidup orang Kristen.  Ketiga, Yakin Tuhan mendengar Doa kita (ayat 12). Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong. Dalam Alkitab ada contoh-contoh bagaimana Allah menjawab doa hamba-hambaNya. Ada waktunya doa langsung dikabulkan ketika Doa Elia yang meminta agar Tuhan tidak memberi hujan maka hujan tidak turun dan ketika Elia meminta api dari langit Tuhan mengirimkan api dan mengalahkan nabi-nabi Baal. Ada waktunya doa harus menunggu berdasarkan waktu Tuhan seperti Abraham dan Sara yang mendapatkan anak pada masa tuanya. Ada waktunya doa tidak dikabulkan seperti Yunus ketika melarikan ke Tarsis jauh dari hadapan Tuhan, sehingga waktu Yunus berdoa untuk menghentikan badai ternyata jawabannya dia harus menerima konsekwensi ditelan seekor ikan besar sebagai akibat  lari  / menjauhi panggilan melayani pekerjaan Tuhan. Ketika dalam perut ikan berdoalah Yunus, “"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. (Yunus 2:2,7). Doa Yunus dikabulkan setelah menuruti kehendak Tuhan. Bila hidup kita tidak benar dan menjauh dari Tuhan, ketika berdoa walaupun dengan kata-kata yang indah pasti tidak didengar dan dijawab oleh Tuhan. Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat. George Muller berkata, “Kadang Tuhan mengizinkan kesulitan-kesulitan menerpa hidup kita. Hanya dengan doa yang terus-menerus disertai kesabaran akan melenyapkan segala kesulitan. Biarlah ia terus berdoa dengan sabar dan pada waktu hatinya sudah siap, maka Allah akan melepaskan dari segala kesulitan dan memberi berkat yang diharapkannya”. Karena itu sangat penting bagi setiap orang Kristen memiliki saat teduh dengan Tuhan setiap hari. Ada juga doa yang harus dijawab oleh semua warga gereja yang menyatakan imannya sebagai pengikut Yesus Kristus. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yohanes 17:20-21). Doa  Tuhan Yesus.”supaya mereka semua menjadi satu” tidak akan pernah terwujud selama batas-batas pemahaman dan penafsiran Alkitab  menghalangi gereja untuk menyatu dalam perbedaan. Oleh karena itu sebagai warga gereja marilah kita bersatu hati mewujudkan gerakan oikumene secara nyata dan tebuka sambil tetap memelihara rahasia iman, agar doa Tuhan Yesus menjadi nyata. Dengan memiliki prinsip hidup rendah hati, menjaga lidah terhadap yang jahat dan yakin Tuhan mendengar doa kita, maka kehidupan yang indah penuh cinta damian pasti akan terwujud secara nyata dan sempurna. Haleluyah!

0 komentar:

Poskan Komentar